Untuk bank data Pelanta bisa dilihat di www.data-pelanta.blogspot.com. Data tersebut akan terus diperbaharui

Selasa, 07 Mei 2013

Wajah Lesu Pariwisata Kita

Noprizal, S.H.I.
Oleh: Noprizal, S.H.I.*
"Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri". Artinya apa yang dimiliki oleh orang lain, biasanya terlihat lebih indah (lebih baik) dari apa yang kita miliki. Ungkapan itu memang sering didengar, bahkan di dunia kepariwisataan, bukan hanya terlihat lebih indah, melainkan memang provinsi tetangga rumputnya selalu dirawat dan ditata dengan rapi, sedangkan rumput kita dibiarkan tanpa pengelolaan yang maksimal, bahkan bisa disebut terbengkalai. 


Jika berani mengatakan rumput kita lebih baik, lantas kenapa kunjungan wisatawan ke Provinsi tidak naik drastis. Ada kemungkinan lantaran pagelaran-pagelaran yang bertujuan untuk mempromosikan objek wisata di Provinsi Jambi sangat minim dilaksanakan.  Meskipun ada beberapa even yang dilaksanakan, namun  even itu masih belum mampu mengarahkan pandangan mata wisatawan dari provinsi tetangga, Sumatera Barat, yang kita ketahui selalu menjadi incaran wisatawan domestik dan mancanegara untuk wilayah pulau Sumatera. 

Apalagi, dengan kembali digelarnya 3 hajatan besar berskala internasional di tahun 2013 ini. Tiga hajatan besar tersebut masing-masing adalah International Event Fly for Fun Lake Maninjau Puncak Lawang Kabupaten Agam pada 16 sampai 21 April 2014 dengan peserta negara Asia, berikutnya Tour de Singkarak pada 3 sampai 9 Juni 2013 dengan melibatkan sembilan kabupaten dan tujuh kota di Sumbar dengan menempuh jarak sepanjang 1.000 kilometer, dan yang ketiga adalah kejuaraan Mentawai International Pro Surf Competition yang dijadwalkan dilaksanakan pada 21-29 April 2013 bertempat di bagian selatan Pulau Sipora tepatnya di Lances Right, Katiet, Kepulauan Mentawai.

Semangat penyelenggaraan hajatan besar seperti ini harusnya bisa menjadi contoh bagi Provinsi Jambi yang memiliki pelbagai objek wisata luar biasa dan eksotis. 3 hajatan berskala internasional yang digelar Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tersebut juga melibatkan semua pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi urang awak tersebut. Lantas apakah Provinsi kita tidak sanggup? Atau tidak serius dalam mengelola bidang kepariwisataan ini?

Hajatan-hajatan besar negeri tetangga tersebut diselenggarakan tetap betujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara. Bahkan dari data yang didapat penulis, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2012 Sumbar mencapai 2.488 orang. Tentu Pemrprov Sumbar menargetkan capaian angka yang lebih tinggi di tahun 2013 ini. 

Keseriusan dan kekompakan untuk memajukan pariwisata di negeri tetangga ini sangat nyata dan selalu mendapatkan dukungan positif dari masyarakatnya, karena dengan dilaksanakan perhelatan besar tersebut, perekonomian masyarakat benar-benar akan tergenjot dan menghasilkan, bukan malah masyarakat yang dibebankan dengan iuran yang sudah dipungut berbulan-bulan menjelang hari-H penyelenggaraan. 

Selain itu, semua kabupaten dan kota juga akan mampu menyosialisasikan target-target dan objek-objek wisatanya sehingga target dan capaian bersama akan dapat dicapai, dan tidak ada yang dirugikan. 
Lantas bagaimana dengan Jambi? Bagaimana kondisi objek wisata yang ada di Kabupaten yang dikenal sebagai lumbung dan sekepal tanah syurga, Kabupaten Kerinci? 

Masyarakat yang datang ke Kerinci untuk berwisata, tentunya akan sangat kecewa dengan pengelolaan objek wisata di kabupaten paling barat Provinsi Jambi tersebut. Tak ayal, penduduk asal Kerinci pun terkadang harus malu jika membawa koleganya datang berwisata ke berbagai objek wisata yang ada di Kerinci. 

Padahal, tidak sedikit anggaran yang dikucurkan untuk menyelenggarakan kegiatan Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK), entah sudah sampai yang ke berapa kali dilaksanakan, namun tetap saja tidak mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke tanah Sakti Alam Kerinci. Tentu ada persoalan lain yang menjadi masalah di wilayah yang tidak kalah potensi wisatanya jika dibandingkan dengan provinsi tetangga, punya gunung yang tinggi menjulang, kebun teh yang terhampar luas, air panas, sejumlah danau, dan beberapa objek wisata eksotis lainnya, namun tentu saja ketidak seriusan pengelolaan akan berakibat pada ketidaktertarikan wisatawan untuk berkunjung. Apalagi iklan dan sosialiasi tidak sampai dan dilakukan dengan cara yang salah. 

Tentu bukan di Kerinci saja, ada beberapa kabupaten lain yang juga memiliki objek wisata menarik lainnya, namun hingga saat ini masih saja hanya sebatas menara gading tempat berpoto dan belum mampu mendongkrak ekonomi kreatif kerakyatan sepenuhnya. 
Masyarakat saat ini masih sangat setia menunggu gebrakan-gebrakan luar biasa dari para pengambil kebijakan di bumi sepucuk Jambi sembilan lurah ini, agar dunia pariwisata di Provinsi ini bisa maju selaras dengan bidang-bidang lainnya. 

Pemerintah tentunya juga harus mencari formulasi baru pengembangan  parisiwata di provinsi Jambi ini, hal itu menyusul terjadinya perubahan pola konsumsi para wisatawan.  Wisatawan saat ini akan lebih tertarik terhadap produk-produk dan kreasi budaya ataupun peninggalan sejarah, dari pada menikmati keindahan alam dan lainnya. Tentu pola konsumsi ini akan menguntungkan Provinsi Jambi yang memiliki banyak objek seperti ini, mulai dari candi Muaro Jambi, Mesjid  Agung Pondok tinggi, dam berbagai kreasi budaya lainnya. 

Perubahan pola wisata ini perlu segera disikapi dengan berbagai strategi pengembangan produk pariwisata maupun promosi baik pemerintah maupun swasta. Dari sisi pemerintahan perlu dilakukan perubahan skala prioritas kebijakan sehingga peran sebagai fasilitator dapat dioptimalkan untuk mengantisipasi hal ini. Disisi lain ada porsi kegiatan yang harus disiapkan dan dilaksanakan oleh swasta yang lebih mempunyai sense of business karena memang sifat kegiatannya berorientasi bisnis.

Di bidang budaya harus dirintis kembali pengembangan dan peningkatan kehidupan kebudayaan dikalangan masyarakat secara rutin dan berkesinambungan diberbagai tingkatan daerah sejak desa sampai ke perkotaan, tidak lagi dipusatkan hanya di pusat ataupun di ibu kota provinsi.  Satu hal lagi yang tidak boleh dikesampaingkan, yaitu teknologi dan informasi. Seperti diketahui, ada 4 negara kelompok besar penyumbang wisatawan dunia yakni Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan Inggris yang menyumbangkan 41% dari pendapatan pariwisata dunia. Dari segi teknologi, keempat negara inipun merupakan negara-negara terbesar pengguna teknologi informasi- internet, yakni 79 persen dari populasi internet dunia (tahun 1997) k.l. 130 juta pengguna internet. 

Angka-angka ini bukanlah secara kebetulan atau di-gathuk-gathukan , tetapi memang ada korelasi yang erat antara pemakaian teknologi informasi dengan peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara. Wisatawan kini tidak sabar menunggu informasi yang biasanya diberikan melalui biro jasa perjalanan ataupun organisasi lainnya. Mereka lebih senang mencari sendiri apa yang ada di benaknya sehingga mampu meyakinkan bahwa produk yang dipilihnya adalah yang terbaik.
Tentu kita semua berharap, akan lahir  ungkapan baru pada masa yang akan datang, ‘’Jangan selalu biarkan rumput tetangga tanpak lebih hijau dari rumput kita.’’ dan wajah lesu akan berubah menjadi wajah ceria. 

*Anggota Pelanta, tinggal di Jambi
Dimuat di Opini Harian Jambi Independent Selasa, 7 Mei 2013 

4 komentar :

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai wisata bersejarah.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai tempat wisata di indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

    BalasHapus

Space 2

Space 2