Untuk bank data Pelanta bisa dilihat di www.data-pelanta.blogspot.com. Data tersebut akan terus diperbaharui

Rabu, 01 Oktober 2014

Materialisme Ekstrim: Manusia Mati Rasa?

Oleh: Suaidi Asyari*
Sejak beberapa tahun terakhir ini Provinsi Jambi,  Riau dan Palembang mempertontonkan panggung yang dapat dikatakan sebagai pertunjukan materialisme ekstrem. Sebuah prilaku ketika nafsu kebendaan dan kekayaan diyakini lebih penting dari pada martabat manusia.
Akibatnya, manusia kehilangan rasa apabila pemikiran, mata, telinga, dan hatinya tidak bisa merasakan kerugian, kesusahan, derita fisik dan batin orang lain. Nyawa melayang akibat usahanya dan kenyamanan perjalanan orang lain tergangu.

Menurut sejumlah kajian, materialisme, konsumerisme dan tindak kekerasan adalah saudara kembar tiga yang sering kali sejalan. Akibat nasfu kebendaan terjadi peningkatan prilaku konsumerisme. Keduanya ini bermuara pada muncul tindak kekerasan terstruktur (structural violence) (Sue McGregor, PhD, 2014). Consumerism . . . causes a remarkable increase of structural and interpersonal violence . (Konsumerisme menyebab peningkatan tindak kekerasan struktural dan interpesonal yang sangat luar biasa).

Sebab-Akibat
Kabut asap akibat pembakaran hutan di Riau, Palembang dan Jambi yang mengakibatkan lebih dari 40.000 orang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Pneumonia atau radang paru-paru, Asma, Iritasi mata dan kulit (sumber berbagai media 2014). Puluhan penerbangan dialihkan dan digagalkan yang menimbulkan kerugian materi ratusan miliar rupiah. Mungkin juga ada diantara anggota masyarakat yang diam-diam stres akibat gagalnya rencana perjalanan untuk berbagai kegiatan bisnis, dinas atau kegiatan kekeluargaan masyarakat.

Air sungai Batang Hari yang keruh pekat sepanjang tahun akibat pengerokan PETI di hulunya di Kabupaten Sarolangun, Merangin, Bungo dan Tebo. Penulis tentu tidak punya ilmu yang cukup untuk memprediksi penyakit apa yang diderita para peminum air sungai Batang Hari setelah sekian tahun ke depan. 

Kemacetan dan kerusakan jalan yang begitu cepat akibat muatan truk batu bara melebihi kemampuan daya tahan jalan, menyeruduk rumah penduduk atau pengguna jalan lain akibat sopir mengantuk, tergeletak rusak, patah as dan terjungkir di pendakian akibat kelebihan muatan, berjalan dan parkir berderatan panjang yang memicu kepamacetan panjang di sejumlah ruas jalan. Hanya orang-orang nekat saja yang berani mendahului ketika sejumlah truk berderet panjang yang tidak memberi cukup ruang jarak antara satu truk dengan lainnya.

Itulah realitas materialisme ekstrim dimana orang lain menjadi tidak lebih penting di banding dengan uang yang mau kita rau. Kita tentu tidak mempunyai perkalian seberapa banyak pajak yang dibayar dibandingkan dengan kerusakan jalan, rasa cemas, nyawa yang melayang, dan ketidaknyamanan lainnya, yang tentu tidak bisa dinilai dengan uang saja.

Barangkali bagi yang beragama Islam perlu melihat firman Allah "Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya mereka deritakan setengah dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali (sadar)."(Ar-Rum:41).

Dalam narasi teguran Allah terhadap umat terdahulu Al-Qur’an menyatakan “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).

Realitas Agak Aneh: Mati Rasa?
Sudah begitu lama realitas di atas terjadi. Namun penjaga keamanan, penjaga Undang-undang, kuli tinta, LSM dan para ulama serta tokoh adat dan masyarakat lainnya, kepala daerah Bupati/Walikota dan Gubernur, akademisi dan mahasiswa, semua bungkam tanpa mampu bersuara. Kalaupun ada yang bersuara sepintas, namun yang lainnya seolah tidak punya telinga atau tidak mampu mendengar dengan baik. Terkadang bersuara sebentar lantas bungkam seketika.

Mungkin kita semua sudah mati rasa (Emotional Numbness). Kehilangan sensitifitas rasa, tidak bisa terharu, menangis atau tidak punya rasa empati terhadap derita begitu banyak orang. Kita tidak punya rasa bahwa akibat perbuatan kita alam, anak ketururunan dan manusia lainnya di sekitar kita menderita. Kita kehilangan rasa sedih dan belas kasihan. Kita berusaha mengganti rugi orang tertentu dengan sejumlah uang yang sesungguhnya tidak tergantikan.

Kemana Mengadu?
Para native Americans pernah berucap "We do not inherit the Earth from our Ancestors, we borrow it from our children" (Alam ini bukan kita warisi dari nenek moyang kita, tetapi kita pinjam dari anak cucuk kita.

Jika memiliki sesuatu, maka kita boleh menggunakan semau kita. Tetapi etika meminjam adalah mengembalikannya dalam keadaan utuh. Terkecuali kita adalah peminjam yang tidak beretika.

Mungkin jika pada suatu masa nanti di kemudian hari, anak cucu kita membaca sejarah sejak kapan dan oleh siapa saja alam ini rusak dalam dokumen media yang begitu banyak tersedia, maka mungkin mereka akan berucap “datuk-datuk kita dulu tidak punya etika meminjam. Datuk-datuk dari anak cucu kita itu adalah kita yang hidup saat ini.

Ketika para pemegang amanah di atas tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, maka dua hal yang mungkin bisa dilakukan. Pertama, berharap Tuhan mengegur kita. Tetapi ingatlah, ketika Tuhan menegur seseorang, maka manusia lain di sekitarnya akan terkena imbasnya.

Kedua, mungkin kita bisa berdo’a ala para nabi yang pernah berhadapan dengan umatnya yang mempunyai profile panca indra di atas. Panca indra yang tidak berfungsi dengan baik. Islam telah menunjukkan dua cara Nabi berdoa.

Cara pertama, mendokan supaya umatnya di azab Allah seperti apa yang dilakukan oleh sejumlah Nabi Allah: Nuh, Syuaib, Luth, Hud, Shaleh dan lainnya.

Misalnya doa Nabi Syuaib terhadap para pengusaha yang suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam usahanya. Bila mereka membeli, meminta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah mengabulkan dengan mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat (di dunia).

Nabi Allah Nuh, diperkanan Tuhan doanya dengan mendatangkan banjir besar. Demikian juga nabi-nabi yang lain dimana doa mereka dikabulkan seketika.

Akan tetapi Nabi Allah Muhammad saw berbeda dengan para Nabi-nabi sebelumnya. Bahkan jika dirinya sendiripun yang dizalimi seperti ketika dilempari batu di Thaif, beliau mendo’akan semoga umatnya itu diberi petunjuk oleh Allah. Kita adalah umat Nabi Muhammad saw.

Akan tetapi doa manusia biasa seperti dewasa ini, meskipun mungkin terzalimi oleh olah segelintir orang tadi, tidak mudah dikabulkan Tuhan. Ada sejumlah syarat terkabulnya doa tidak terpenuhi. Kalaupun terpenuhi mungkin tidak dalam waktu yang segera.

Oleh karena itu, jika menggunakan teori penyebab konsumerisme dan materialisme ekstrem sepintas disampaikan di muka, maka mungkin kita bisa memberikan sejumlah pemikiran kepada saudara kita.

Menurut sejumlah kajian di Amerika, bahwa terjadinya penurunan rasa kemakmuran dan bahagia seiring dengan terjadinya peningkatan prilaku materialisme dan konsumerisme (Tori Deangelis, 2004). Artinya, prilaku materialisme dan konsumerisme yang tinggi itu kelihatannya adalah prilaku yang coba dilakukan manusia untuk menciptakan rasa puas, makmur dan bahagia.

Namun, pada kenyataannya, semakin banyak harta dikumpulkan, barang-barang yang dibeli dari mal-mal, semakin muncul rasa tidak puas, rasa tidak bahagia dan tidak makmur. Kalaupun ada rasa puas dan bahagia, maka perasaan itu hanya berlangsung sesaat untuk kemudian menghilang.

Mungkin layak kita mengutip Martin Luther King Ji, 1967,  We must rapidly begin the shift from a “thing-oreinted” society to a “person-oriented” society (Kita harus segera mulai bergeser dari masyarakat berorientasi kebendaan menuju masyarakat berorientasi orang).

Kita menghargai apa yang dilakukan seseorang terhadap orang lain dan alam sekitarnya, tidak pada kekayaannya. Apa lagi kekayaan yang secara kasat mata telah menyengsarakan begitu banyak orang. Semoga bermamfaat.

*Direktur Eksekutif CSCIIS Jambi & Ketua Forum Dekan Fakultas Ushuluddin se-Indonesia. Tulisan ini pendapat pribadi.

Sumber: http://jambiekspres.co.id/berita-18214-materialisme-ekstrim--manusia-mati-rasa-.html

 

3 komentar :

Space 2

Space 2